JAKARTA - Pergerakan kredit perbankan kembali memberi sinyal optimisme bagi sektor manufaktur nasional. Setelah sempat tertahan, pembiayaan ke industri pengolahan menunjukkan akselerasi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Di balik tren tersebut, industri logam dasar besi dan baja muncul sebagai penopang utama, sekaligus menandai bangkitnya subsektor yang sebelumnya mengalami tekanan.
Dinamika ini memperlihatkan bagaimana arah investasi, permintaan global, serta kebijakan domestik berkelindan dalam membentuk kinerja kredit perbankan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa hingga September 2025, sektor industri pengolahan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan kredit bank umum.
Peningkatan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan refleksi dari geliat aktivitas produksi dan ekspansi usaha di sektor manufaktur.
Industri besi dan baja, yang sempat terkontraksi, kini justru menunjukkan pemulihan yang cukup signifikan dan berdampak langsung pada penyaluran kredit.
Tren Kredit Manufaktur Kembali Menguat
Berdasarkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia Kuartal III/2024 yang dirilis OJK, penyaluran kredit bank umum ke sektor industri pengolahan mengalami peningkatan laju pertumbuhan.
Hingga kuartal III/2025, kredit ke sektor ini tumbuh 8,64% secara tahunan atau year on year, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 7,06% YoY.
OJK menegaskan bahwa penguatan tersebut tidak terjadi secara merata, melainkan ditopang oleh subsektor tertentu. “Meningkatnya pertumbuhan kredit pada sektor ini didorong oleh subsektor industri logam dasar besi dan baja,” tulis OJK dalam laporannya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa besi dan baja memainkan peran penting dalam menjaga momentum pembiayaan sektor manufaktur.
Pemulihan ini juga menjadi indikator membaiknya kepercayaan perbankan terhadap sektor industri pengolahan. Dengan prospek yang lebih cerah, bank cenderung lebih agresif menyalurkan kredit, terutama pada subsektor yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan berkelanjutan.
Peran Industri Besi Dan Baja
Subsektor industri logam dasar besi dan baja mencatatkan kinerja yang cukup kontras dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga September 2025, penyaluran kredit ke subsektor ini tumbuh 7,41% YoY, berbalik arah dari kondisi kontraksi sebesar -1,46% YoY pada periode sebelumnya. Perubahan ini menandai fase pemulihan yang cukup kuat.
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai pertumbuhan kredit di subsektor besi dan baja sejalan dengan tren investasi yang membaik dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, industri ini mendapat dorongan signifikan dari peningkatan penanaman modal, termasuk investasi asing langsung atau foreign direct investment.
“Kita lihat juga untuk FDI di sektor ini juga cukup kuat ya dan kita juga merupakan produsen besi dan baja yang produktif,” kata Myrdal.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa daya saing industri besi dan baja Indonesia turut berkontribusi pada meningkatnya minat pembiayaan dari perbankan.
Selain itu, proyek-proyek pembangunan dan kebutuhan material dasar untuk infrastruktur turut menopang permintaan terhadap produk besi dan baja.
Kondisi ini menciptakan efek berantai, di mana peningkatan produksi mendorong kebutuhan modal kerja dan investasi, yang pada akhirnya meningkatkan penyaluran kredit.
Dorongan Investasi Dan Hilirisasi
Myrdal juga menyoroti bahwa prospek subsektor besi dan baja masih terbuka lebar ke depan. Semangat pembangunan nasional dan arah kebijakan hilirisasi yang semakin menguat menjadi faktor pendukung utama. Dengan kebijakan tersebut, industri tidak hanya fokus pada produksi bahan mentah, tetapi juga pada peningkatan nilai tambah.
Hilirisasi dinilai mampu memperkuat struktur industri manufaktur nasional. Ketika rantai produksi semakin panjang dan kompleks, kebutuhan pembiayaan pun meningkat. Hal ini memberikan peluang bagi perbankan untuk memperluas portofolio kreditnya di sektor industri pengolahan.
Dengan demikian, Myrdal berharap sektor manufaktur nasional dapat semakin solid, tidak hanya sebagai penopang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai sumber penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya saing global. Industri besi dan baja, dalam konteks ini, menjadi salah satu pilar penting yang menopang transformasi tersebut.
Tantangan Dan Keberlanjutan Pertumbuhan
Sementara itu, Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai bahwa peningkatan pertumbuhan kredit di subsektor besi dan baja tidak lepas dari tingginya permintaan global. Menurutnya, permintaan internasional yang kuat mendorong kinerja industri, sehingga kebutuhan pembiayaan pun meningkat.
“Sehingga pertumbuhan kreditnya juga tinggi,” kata Teuku.
Namun, Teuku mengingatkan bahwa keberlanjutan pertumbuhan kredit sektor industri pengolahan sangat bergantung pada kebijakan domestik.
Upaya menarik investasi ke dalam negeri menjadi faktor kunci agar momentum positif ini dapat dipertahankan. Jika kebijakan yang diterapkan mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif, ia meyakini kredit sektor industri pengolahan masih akan tumbuh pada tahun ini.
Dengan berbagai faktor pendukung dan tantangan tersebut, arah penyaluran kredit ke sektor manufaktur ke depan akan sangat ditentukan oleh sinergi antara kebijakan pemerintah, kondisi global, serta strategi perbankan.
Industri besi dan baja telah membuktikan diri sebagai pendorong utama pemulihan, dan perannya berpotensi semakin besar dalam memperkuat fondasi industri nasional.