Analisis Kinerja PT United Tractors Tbk. Laba Rp14,81 Triliun 2025

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:12:38 WIB
Analisis Kinerja PT United Tractors Tbk. Laba Rp14,81 Triliun 2025

JAKARTA - PT United Tractors Tbk. (UNTR), salah satu perusahaan terkemuka yang tergabung dalam grup Astra, mengakhiri tahun 2025 dengan mencatatkan laba bersih yang cukup signifikan meskipun ada penurunan. 

Laba bersih perusahaan yang bergerak di berbagai sektor industri ini tercatat sebesar Rp14,81 triliun, meskipun turun 24,17% dibandingkan dengan pencapaian pada tahun sebelumnya. 

Meskipun ada penurunan kinerja, laba yang masih tinggi ini tetap menunjukkan daya tahan UNTR dalam menghadapi tantangan pasar yang dinamis. 

Kinerja perusahaan ditopang oleh beberapa lini bisnis unggulannya, mulai dari kontraktor, alat berat, hingga sektor pertambangan seperti batu bara, emas, dan nikel.

Kinerja Pendapatan dan Laba Bersih UNTR di 2025

UNTR melaporkan pendapatan bersih sepanjang tahun 2025 sebesar Rp131,3 triliun, meskipun terdapat penurunan sebesar 2,32% dibandingkan dengan pendapatan tahun 2024 yang tercatat Rp134,4 triliun. 

Di sisi lain, laba bersihnya mengalami penurunan signifikan sebesar 24,17% year-on-year (YoY), dari Rp19,53 triliun pada 2024 menjadi Rp14,81 triliun pada tahun 2025. 

Meskipun ada penurunan, laba bersih ini tetap mencerminkan kekuatan perusahaan dalam menjalankan berbagai segmen usahanya yang saling mendukung.

UNTR mengelola berbagai lini usaha, dan masing-masing segmen ini memberikan kontribusi yang beragam terhadap total pendapatan. Beberapa segmen utama yang menjadi pendorong kinerja UNTR antara lain mesin konstruksi, kontraktor penambangan, serta pertambangan batu bara, emas, dan nikel.

Penurunan pada Segmen Mesin Konstruksi

Segmen usaha mesin konstruksi menjadi salah satu pilar utama pendapatan UNTR. Namun, pada 2025, sektor ini mencatatkan penurunan sebesar 2% menjadi Rp36,6 triliun. Meskipun demikian, sektor mesin konstruksi berhasil mencatatkan penjualan alat berat Komatsu yang tetap menunjukkan angka positif, meskipun hanya meningkat sebesar 2% menjadi 4.515 unit. 

Sebagian besar penjualan alat berat berasal dari sektor kehutanan dan perkebunan, dengan Komatsu mempertahankan pangsa pasar sebesar 20% di sektor alat berat pertambangan.

Namun, penurunan juga tercatat pada penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat yang turun 3%, sehingga mempengaruhi total pendapatan sektor mesin konstruksi. Terlepas dari penurunan ini, UNTR tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar alat berat di sektor pertambangan.

Segmen Kontraktor Penambangan dan Batu Bara

Segmen kontraktor penambangan, yang dikelola oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining), juga mengalami penurunan pendapatan sebesar 7%, menjadi Rp54,1 triliun pada 2025. Kinerja segmen ini dipengaruhi oleh faktor cuaca, dengan curah hujan yang tinggi mempengaruhi volume pekerjaan pemindahan tanah. 

Pada kuartal IV 2025, volume pemindahan tanah tercatat mengalami penurunan 10%, meskipun volume produksi batu bara tetap stabil di angka 148 juta ton.

Kinerja segmen ini juga dipengaruhi oleh turunnya stripping ratio pada beberapa kontrak yang dihadapi oleh PAMA Grup, yang menjadikan kinerja mereka sedikit melambat pada tahun 2025. Namun, meski ada penurunan, segmen kontraktor penambangan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan perusahaan.

Kinerja Positif dari Pertambangan Emas dan Nikel

Segmen pertambangan yang meliputi batu bara, emas, dan nikel memberikan hasil yang bervariasi. Sektor pertambangan batu bara termal dan metalurgi, yang dijalankan oleh Turangga Resources, mencatatkan volume penjualan batu bara yang mengalami kenaikan sebesar 14%, mencapai 11,6 juta ton pada 2025. 

Meskipun ada peningkatan volume penjualan, pendapatan dari segmen ini turun 7% menjadi Rp24,2 triliun, yang disebabkan oleh penurunan rata-rata harga jual batu bara.

Sementara itu, di sektor pertambangan emas, UNTR berhasil mencatatkan pendapatan yang positif dengan kenaikan sebesar 41% menjadi Rp14,0 triliun. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh harga emas yang mengalami lonjakan, meskipun penjualan setara emas secara keseluruhan mengalami penurunan 2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Di sektor nikel, PT Stargate Pasific Resources (SPR) yang mengelola tambang nikel, mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 2,1 juta wet metric ton (wmt) pada 2025. 

Kendati demikian, kinerja bisnis nikel ini sempat terdampak oleh penurunan nilai dari proyek RKEF milik Nickel Industries Limited (NIC) pada kuartal IV/2024. Hal ini memberikan dampak pada pendapatan yang dihasilkan dari sektor nikel pada awal tahun 2025.

Prospek Kinerja UNTR di Masa Depan

Meskipun mengalami penurunan laba dan pendapatan pada 2025, UNTR tetap menunjukkan ketahanan di berbagai sektor yang dijalankannya. 

Sektor pertambangan, terutama batu bara dan emas, masih menjadi andalan perusahaan dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Sementara itu, kinerja segmen mesin konstruksi yang terhambat oleh penurunan pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat masih menunjukkan potensi yang dapat diperbaiki.

Dengan kontribusi yang beragam dari berbagai lini bisnis, UNTR berpotensi untuk terus memperbaiki kinerjanya pada masa mendatang, terlebih dengan proyeksi stabilisasi harga komoditas dan optimisme di sektor pertambangan. Ke depannya, UNTR perlu fokus pada efisiensi operasional dan diversifikasi portofolio untuk mengatasi tantangan yang ada.

Terkini