Nego Tarif Trump RI Siap Borong Komoditas Pertanian AS

Senin, 09 Februari 2026 | 11:06:22 WIB
Nego Tarif Trump RI Siap Borong Komoditas Pertanian AS

JAKARTA - Upaya menyeimbangkan hubungan dagang Indonesia–Amerika Serikat kembali memasuki fase konkret.

 Di tengah proses negosiasi tarif resiprokal yang melibatkan pemerintahan Presiden Donald Trump, Indonesia menyatakan kesiapan meningkatkan pembelian komoditas pertanian asal Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi penguatan kerja sama ekonomi kedua negara.

Langkah tersebut tidak hanya dimaknai sebagai transaksi perdagangan semata, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi ekonomi untuk menciptakan hubungan dagang yang lebih seimbang dan berkelanjutan. 

Pemerintah menilai sektor pertanian menjadi titik temu kepentingan kedua negara, terutama dalam memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri.

Strategi Dagang Dalam Negosiasi Tarif

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pengusaha Indonesia menunjukkan minat kuat untuk melanjutkan dan memperluas perdagangan dengan Amerika Serikat. 

Ketertarikan tersebut tidak terbatas pada komoditas pangan, tetapi juga mencakup berbagai sektor lain yang berpotensi mendukung industri nasional.

Dalam pertemuan dengan Under Secretary for Trade and Foreign Agricultural Affairs of United States Department of Agriculture Luke J. Lindberg serta Delegasi Eksportir Produk Pertanian AS di Jakarta pada awal pekan ini, Airlangga menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong kemajuan perjanjian perdagangan resiprokal.

“Jadi, saya pikir kita mendorong kemajuan perjanjian dagang ini, karena saya pikir akan ada juga peluang investasi yang muncul dari kesepakatan ini. Begitulah cara Indonesia menerima investasi AS. Anda membawa modal serta teknologi, dan itu penting bagi Indonesia,” tutur Menko Airlangga.

Pemerintah menargetkan pembelian produk komoditas pertanian AS senilai USD4,5 miliar atau setara Rp75,4 triliun dengan asumsi kurs Rp16.768 per dolar AS. Nilai tersebut dipandang sebagai bentuk keseriusan Indonesia dalam memperkuat kemitraan dagang strategis.

Fokus Komoditas Pertanian Strategis

Nota kesepahaman antara Indonesia dan Amerika Serikat mencakup lima komoditas utama, yakni kedelai, bungkil kedelai, gandum, kapas, dan jagung. Seluruh komoditas tersebut dinilai penting sebagai bahan baku industri nasional dan hingga kini belum diproduksi secara memadai di dalam negeri.

Peningkatan impor komoditas tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran industri pangan, tekstil, hingga pakan ternak. Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini tidak mengganggu produksi petani lokal, melainkan mengisi kebutuhan yang belum dapat dipenuhi oleh produksi domestik.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya menjaga stabilitas pasokan bahan baku industri, terutama di tengah dinamika global yang mempengaruhi rantai pasok pangan dan pertanian. Dengan memastikan ketersediaan bahan baku, pemerintah berharap aktivitas industri tetap berjalan optimal.

Misi Dagang AS Ke Jakarta

Seperti dikutip dari situs Kedutaan Besar AS, USDA menggelar misi dagang ke Jakarta untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan ekspor produk pertanian Amerika. Misi ini juga bertujuan memanfaatkan peluang baru yang muncul melalui Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia–AS.

Misi dagang tersebut berlangsung pada 2–6 Februari 2026 dan dipimpin langsung oleh Under Secretary for Trade and Foreign Agricultural Affairs Luke J. Lindberg. 

Selama kunjungan, staf Foreign Agricultural Service USDA serta para ahli regional mengadakan pengarahan pasar, kunjungan lapangan, dan pertemuan business-to-business dengan pembeli dari Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste.

“Presiden Trump dan saya mengadakan pertemuan dengan kelompok petani di Iowa pada minggu lalu. Dari pembicaraan yang produktif di sana dapat disimpulkan tentang pentingnya membangun kemitraan yang kuat dan langgeng di seluruh dunia. Dan, saya belum mendengar dari para petani kami tentang pasar lain yang lebih mereka sukai untuk diajak bermitra, selain Indonesia,” kata Wakil Menteri Lindberg.

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Indonesia sebagai mitra strategis penting bagi sektor pertanian Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara.

Peluang Jangka Panjang Bagi Kedua Negara

Antusiasme pelaku usaha terlihat dari kehadiran 21 perusahaan agribisnis Amerika Serikat dalam pertemuan di Jakarta. Selain itu, terdapat 20 organisasi kooperator yang mewakili berbagai segmen industri serta enam Departemen Pertanian dari negara bagian di AS yang turut berpartisipasi.

Menurut Wakil Menteri Lindberg, kerja sama di sektor pertanian memiliki manfaat jangka panjang, khususnya dalam menjaga ketahanan pangan kedua negara. Kerja sama tersebut dinilai mampu menciptakan rantai pasok yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.

“Saya tahu banyak perusahaan kita yang hadir ini sangat ingin melihat kesepakatan dan transaksi terjadi di bawah perjanjian baru ini, serta ingin membangun hubungan pembeli-penjual yang akan berlangsung sangat lama. Jadi, saya benar-benar merasa bahwa masa depan yang indah ada di depan kita, dan kami sangat berharap dapat mengembangkan kesepakatan ini lebih lanjut,” kata Wakil Menteri Lindberg.

Pemerintah Indonesia memandang kesepakatan ini bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga pintu masuk investasi, transfer teknologi, dan penguatan hubungan bilateral. Dengan pendekatan tersebut, negosiasi tarif tidak semata-mata berujung pada angka, melainkan membentuk kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan dalam jangka panjang.

Terkini