JAKARTA - Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terus menggeber agenda hilirisasi nasional sebagai fondasi penguatan ekonomi jangka panjang.
Setelah memulai fase awal sejumlah proyek strategis, Danantara kini menyiapkan langkah lanjutan agar seluruh rencana tersebut dapat berjalan sesuai target. Fokus utama bukan hanya kecepatan pelaksanaan, tetapi juga kesinambungan antarproyek agar manfaatnya bisa dirasakan secara luas oleh masyarakat dan perekonomian nasional.
Upaya percepatan ini menjadi bagian dari strategi besar negara dalam mendorong nilai tambah sumber daya alam, memperkuat ketahanan energi, serta mengembangkan sektor kelautan dan pertanian.
Dalam kerangka tersebut, Danantara menegaskan bahwa seluruh proyek hilirisasi yang telah dirancang akan diselesaikan secara bertahap, namun terukur, sebelum memasuki paruh kedua tahun 2026.
Strategi Percepatan Groundbreaking Proyek Hilirisasi
Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) memastikan proses peletakan batu pertama atau groundbreaking dari total 18 proyek hilirisasi akan rampung sebelum berakhirnya semester pertama tahun 2026. Target ini ditegaskan setelah pelaksanaan Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase I yang digelar pada 6 Februari.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa pihaknya telah memetakan proyek-proyek lanjutan yang masuk ke dalam fase berikutnya. Menurutnya, kesiapan perencanaan menjadi kunci agar seluruh proyek dapat berjalan cepat dan selaras dengan peta jalan hilirisasi nasional.
"Iya, tentunya sudah ada ya, yang kedua (fase dua) sudah ada tapi kita perlu memastikan bahwa nanti ini bisa berjalan dengan cepat, sesuai dengan rencana dan planning kita ke depannya," kata Rosan.
Meski belum membeberkan detail proyek fase kedua, Rosan menyebut jadwal groundbreaking selanjutnya telah disusun. Ia berharap proses tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan mulai Maret hingga April 2026.
"Ya kami harapkan nanti di bulan Maret sudah ada (groundbreaking), di bulan April juga ada. Jadi ini secara berkesenambungan, kami lakukan secara terus-menerus," tambahnya.
Tahapan Fase Pertama Hingga Fase Lanjutan
Rosan menegaskan bahwa fase pertama yang telah dilaksanakan hanyalah bagian awal dari keseluruhan agenda hilirisasi. Dari total 18 proyek yang direncanakan, fase pertama mencakup enam proyek strategis yang menjadi pembuka rangkaian pembangunan berikutnya.
"Ini adalah fase pertama karena kita melihat akan ada total 18 proyek hilirisasi yang kami canangkan, dan akan kami selesaikan dalam waktu sesegera mungkin," tegasnya.
Sama seperti fase pertama, pelaksanaan fase kedua dan proyek-proyek berikutnya akan dilakukan secara serempak. Pendekatan ini dipilih agar proses groundbreaking tidak dilakukan satu per satu, melainkan dikonsolidasikan dalam satu momentum bersama.
"Kita kumpulkan dulu proyeknya, memang kalau groundbreaking kami inginnya tidak satu-satu tapi bisa bersama-sama," jelas Rosan.
Dengan selesainya fase pertama yang mencakup enam proyek, Danantara masih memiliki 12 proyek lain yang akan memasuki tahap groundbreaking dalam waktu mendatang. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat realisasi manfaat ekonomi dari sektor-sektor strategis yang menjadi sasaran hilirisasi.
Daftar Sektor Dan Proyek Hilirisasi Nasional
Sebagai gambaran, Ketua Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya telah menyerahkan 18 proyek hilirisasi yang telah melalui tahap studi awal atau pra feasibility study kepada Danantara.
Dari total proyek tersebut, sebagian besar berada di sektor energi, sementara sisanya tersebar di sektor kelautan, perikanan, dan pertanian. Secara umum, pembagian proyek hilirisasi tersebut meliputi:
Sektor energi dengan dominasi proyek hilirisasi minerba, transisi energi, dan ketahanan energi
Sektor kelautan dan perikanan yang berfokus pada peningkatan nilai tambah hasil laut
Sektor pertanian yang diarahkan pada penguatan industri berbasis komoditas unggulan nasional
Komposisi ini mencerminkan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Rincian Lengkap Delapan Belas Proyek Hilirisasi
Berikut rincian 18 proyek hilirisasi yang akan dikelola Danantara, dengan penekanan pada pengembangan industri bernilai tambah tinggi di berbagai sektor strategis nasional:
1. Proyek Hilirisasi Minerba
Industri Smelter Aluminium (Bauksit)
Industri DME berbasis batu bara di enam lokasi
Industri Aspal dari Aspal Buton
Industri Mangan Sulfat
Industri Stainless Steel Slab berbasis Nikel
Industri Copper Rod, Wire & Tube dari Katoda Tembaga
Industri Besi Baja dari Pasir Besi
Industri Chemical Grade Alumina dari Bauksit
2. Proyek Transisi Energi
Modul Surya Terintegrasi berbasis Bauksit dan Silika
Industri Bioavtur dari Used Cooking Oil
3. Proyek Ketahanan Energi
Oil Refinery
Oil Storage Tanks
4. Proyek Hilirisasi Kelautan Dan Perikanan
Industri Chlor Alkali Plant berbasis Garam
Industri Fillet Tilapia
Industri Carrageenan dari Rumput Laut
5. Proyek Hilirisasi Pertanian
Industri Oleoresin dari Pala
Industri Oleofood berbasis Kelapa Sawit
Industri Nata de Coco, Medium-Chain Triglycerides, Coconut Flour, dan Activated Carbon dari Kelapa
Dengan perencanaan yang matang dan tahapan yang jelas, BPI Danantara menegaskan komitmennya untuk mempercepat hilirisasi sektor-sektor strategis nasional.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi, mendorong industrialisasi berbasis sumber daya dalam negeri, serta meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.