JAKARTA - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah memastikan pemulangan jamaah umrah berjalan lancar dan aman. Hingga 3 Maret 2026, sebanyak 10.060 peserta umrah telah kembali ke tanah air dengan pengawasan ketat.
Staf Teknis Urusan Haji KJRI Jeddah, Muhammad Ilham Effendy, menegaskan setiap jamaah mendapatkan pendampingan penuh mulai dari check-in hingga keberangkatan.
“Kami memastikan seluruh jamaah mendapatkan pendampingan secara langsung, mulai dari proses check-in hingga keberangkatan,” ujarnya.
Pemulangan ini menjadi bukti komitmen negara untuk hadir di setiap tahap perjalanan jamaah. Dengan koordinasi lintas pihak, termasuk maskapai penerbangan dan travel penyelenggara, KJRI memastikan proses pulang ke Indonesia tidak menimbulkan kendala berarti.
Pengawasan Intensif di Terminal Haji Menjadi Kunci
KJRI Jeddah melakukan pengawasan langsung di Terminal 1 dan Terminal Haji, lokasi utama pelayanan jamaah. Setiap aktivitas, mulai dari pemrosesan bagasi, boarding, hingga pengecekan administrasi, dipantau secara berkala.
Langkah ini sejalan dengan prinsip negara dalam memberikan perlindungan maksimal bagi jamaah. Ilham menekankan, eskalasi yang terjadi di wilayah Timur Tengah tidak memengaruhi kualitas layanan.
“Negara hadir untuk memberikan perlindungan, terutama bagi jamaah yang menghadapi kendala penerbangan,” katanya.
Meski sebagian besar jamaah kembali tepat waktu, masih terdapat sekitar 300 orang yang mengalami keterlambatan penerbangan. Jamaah tertahan ini tersebar di Jeddah dan Makkah karena masalah koordinasi visa dan jadwal transit penerbangan.
Koordinasi Berkelanjutan untuk Penanganan Stranded Jamaah
KJRI Jeddah segera menindaklanjuti jamaah yang mengalami penundaan. Tim Teknis Urusan Haji melakukan koordinasi intens dengan pihak maskapai, travel, dan penyelenggara visa agar keberangkatan berikutnya dapat terjamin.
Selain itu, KJRI menyediakan konsumsi dan kebutuhan dasar bagi jamaah yang menunggu penerbangan lanjutan. Langkah ini memastikan jamaah tetap nyaman dan aman selama proses administrasi selesai.
“Memastikan penyediaan konsumsi dan kebutuhan dasar bagi jemaah yang masih menunggu penerbangan. Berkoordinasi dengan pihak travel dan penanggung jawab visa guna mempercepat penyelesaian administrasi,” jelas Ilham.
Pemantauan dilakukan secara bergiliran 24 jam untuk mengantisipasi penumpukan jamaah. Prinsipnya jelas, tidak ada jamaah yang ditinggalkan. Seluruh tim KJRI bertanggung jawab penuh terhadap perlindungan dan pendampingan peserta umrah.
Jumlah Jamaah Masih Signifikan di Arab Saudi
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh), per 1 Maret 2026, tercatat 58.873 peserta umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi untuk menjalankan ibadah.
Angka ini menunjukkan pemulangan berlangsung bertahap. KJRI terus memantau kondisi dan memastikan layanan maksimal bagi jamaah yang masih berada di lokasi. Semua kegiatan dijalankan dengan prinsip keamanan, kenyamanan, dan koordinasi efektif antara KJRI, maskapai, dan pihak terkait di Arab Saudi.
Dengan langkah pengawasan intensif, pendampingan penuh, dan koordinasi berkelanjutan, KJRI menegaskan seluruh jamaah umrah Indonesia mendapatkan hak mereka untuk kembali dengan aman dan tertib ke tanah air.