JAKARTA - Memasuki awal 2026, industri perbankan nasional mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dari sisi kualitas aset. Indikator utama yang mencerminkan kondisi tersebut terlihat dari tren penurunan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan.
Data terbaru memperlihatkan bahwa tekanan kredit macet yang sempat meningkat dalam beberapa periode terakhir kini mulai mereda, meskipun belum sepenuhnya kembali ke level ideal.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat rasio NPL gross perbankan berada di level 2,21 persen per November 2025, menurun dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang mencapai 2,25 persen.
Kendati demikian, angka tersebut masih sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,19 persen. Kondisi serupa juga tercermin pada NPL net yang turun menjadi 0,86 persen dari 0,90 persen pada Oktober 2025, meski masih berada di atas posisi November 2024 yang sebesar 0,75 persen.
Penurunan ini menjadi sinyal positif bahwa kualitas kredit mulai membaik. Namun, perbankan tetap memandang situasi ini dengan kehati-hatian, mengingat dinamika ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian global maupun domestik.
Bank Besar Catat Tren NPL Yang Kian Terkendali
Perbaikan kualitas aset tidak hanya terlihat di tingkat industri, tetapi juga tercermin pada laporan kinerja sejumlah bank besar. PT Bank Central Asia Tbk mencatat rasio NPL gross sebesar 1,7 persen pada 2025, membaik dari 1,8 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk berhasil menurunkan NPL gross menjadi 1,9 persen dari 2,0 persen pada 2024.
Di segmen perbankan syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk juga mencatatkan perbaikan. Rasio non-performing financing BSI turun dari 1,90 persen pada 2024 menjadi 1,81 persen pada 2025. Capaian ini menunjukkan efektivitas pengelolaan risiko kredit yang semakin disiplin di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Bank Mandiri turut melaporkan kualitas aset yang tetap solid. Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyampaikan bahwa rasio NPL perseroan terjaga di bawah 1 persen.
Selain itu, NPL coverage ratio Bank Mandiri mencapai sekitar 253 persen, mencerminkan tingkat pencadangan yang sangat kuat untuk mengantisipasi potensi risiko ke depan.
Menurut Riduan, tingginya coverage ratio tersebut merupakan langkah antisipatif dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi. Bank Mandiri pun terus mencermati sektor-sektor yang dinilai sensitif terhadap pelemahan permintaan dan fluktuasi harga komoditas.
Strategi Penyaluran Kredit Tetap Mengedepankan Kehati-Hatian
Meski kualitas aset membaik, perbankan menegaskan tidak akan melonggarkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit sepanjang 2026. Bank Mandiri, misalnya, tetap mengarahkan penyaluran kredit ke sektor-sektor yang dinilai prospektif dan memiliki ketahanan kuat.
“Penyaluran kredit kami arahkan ke sektor-sektor prospektif dengan ketahanan yang kuat, didukung disiplin underwriting dan pemantauan portofolio yang ketat,” ujar Riduan.
Pendekatan serupa juga dilakukan BCA. Direktur BCA Vera Eve Lim mengatakan pihaknya menargetkan rasio NPL tetap terkendali di kisaran 1,8 persen hingga 2 persen.
Di sisi lain, BCA optimistis prospek pertumbuhan kredit tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. “Untuk NPL, kami jaga tetap stabil di kisaran 1,8% sampai 2%,” kata Vera.
Sejalan dengan membaiknya outlook ekonomi, BCA menaikkan target pertumbuhan kredit menjadi 8 persen hingga 10 persen. Perseroan berharap akselerasi kredit mulai terlihat sejak kuartal pertama, meskipun tetap disertai penguatan manajemen risiko agar kualitas kredit tetap terjaga.
BNI juga mencatat perbaikan berkelanjutan pada kualitas aset. Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyebut penurunan NPL mencerminkan berkurangnya eksposur risiko kredit dan telah kembali ke level pra-pandemi. NPL coverage ratio BNI tercatat 205,5 persen, sementara loan at risk coverage ratio mencapai 46,9 persen.
“Kami terus memperkuat underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah sejak dini dengan dukungan data analytics dan early warning system,” jelas Paolo.
Tantangan Ekonomi Membuat Bank Tetap Selektif
Di tengah tren perbaikan tersebut, tantangan ke depan dinilai masih cukup besar. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menilai perbaikan kualitas aset merupakan hasil penerapan manajemen risiko yang disiplin dan sesuai dengan segmentasi bisnis. Menurutnya, kualitas aset menjadi fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan perbankan.
Pandangan lebih hati-hati disampaikan oleh Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan. Ia menilai NPL perbankan pada 2026 masih berpotensi menghadapi tekanan, terutama apabila pemulihan daya beli masyarakat berlangsung lebih lambat dari perkiraan. “Tren NPL masih cukup menantang dan berpotensi meningkat, terutama bila daya beli belum pulih sepenuhnya,” ujarnya.
Trioksa menambahkan, sektor pembelian barang bernilai besar seperti perumahan dan otomotif relatif lebih berisiko terhadap kenaikan kredit bermasalah. Sebaliknya, sektor kebutuhan pokok seperti perkebunan, pertanian, dan ritel dinilai lebih stabil karena permintaannya cenderung terjaga.
Dengan kondisi tersebut, perbankan diperkirakan akan tetap selektif dalam menyalurkan kredit sepanjang 2026. Menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kualitas kredit menjadi kunci utama agar risiko dapat dikendalikan di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung.