Studi Ungkap Risiko Diabetes Berdasarkan Golongan Darah Wanita

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:44:28 WIB
Studi Ungkap Risiko Diabetes Berdasarkan Golongan Darah Wanita

JAKARTA - Peningkatan kasus diabetes tipe dua dalam beberapa dekade terakhir sering dikaitkan dengan pola makan, kurang aktivitas fisik, hingga obesitas. 

Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa faktor risiko penyakit ini tidak hanya berasal dari gaya hidup. Karakteristik biologis tertentu, termasuk golongan darah, juga diduga memiliki keterkaitan dengan kemungkinan seseorang mengalami gangguan metabolik tersebut.

Diabetes merupakan kondisi ketika kadar gula darah berada pada tingkat tinggi dalam waktu lama. Jika tidak terkontrol, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius, mulai dari kerusakan saraf hingga penyakit jantung. 

Karena itu, memahami berbagai faktor risiko baik yang dapat diubah maupun yang bersifat bawaan menjadi langkah penting dalam pencegahan jangka panjang.

Hubungan Golongan Darah dengan Risiko Diabetes

Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengaitkan golongan darah tertentu dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke. Berangkat dari temuan tersebut, para peneliti mencoba menelusuri kemungkinan hubungan serupa terhadap diabetes tipe dua.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian Epidemiologi Gustave Roussy Institute di Prancis yang dipimpin Guy Fagherazzi menganalisis data sekitar 82 ribu perempuan dalam rentang waktu panjang, yakni 1990 hingga 2008. 

Berdasarkan analisis kuesioner kesehatan, sebanyak 3.553 peserta diketahui didiagnosis diabetes tipe dua selama periode pengamatan.

Hasil analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia menunjukkan adanya variasi risiko berdasarkan golongan darah. Wanita dengan golongan darah A tercatat memiliki kemungkinan sekitar 10 persen lebih tinggi mengalami diabetes tipe dua dibandingkan mereka yang bergolongan darah O. 

Risiko tersebut meningkat pada golongan darah B dengan selisih sekitar 21 persen, sementara golongan darah AB menunjukkan peningkatan risiko sekitar 17 persen dibandingkan golongan O.

Peran Faktor Rhesus dalam Temuan Penelitian

Selain sistem ABO, peneliti juga menilai kemungkinan pengaruh faktor Rhesus terhadap kejadian diabetes. Hasilnya menunjukkan tidak terdapat perbedaan risiko yang berarti antara individu dengan Rhesus positif maupun negatif jika dilihat secara terpisah.

Namun, ketika golongan darah dan faktor Rhesus dianalisis secara bersamaan, muncul variasi risiko yang lebih spesifik. Wanita dengan golongan darah B positif ditemukan memiliki kemungkinan sekitar 35 persen lebih tinggi terkena diabetes dibandingkan golongan darah O. 

Sementara itu, golongan AB positif menunjukkan peningkatan risiko sekitar 26 persen, A negatif sekitar 22 persen, dan A positif sekitar 17 persen lebih tinggi dibandingkan golongan O.

Dalam pernyataannya, Fagherazzi menyebutkan, "Temuan kami mendukung adanya hubungan yang kuat antara golongan darah dan risiko diabetes, di mana peserta dengan golongan darah O memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2."

Makna Temuan bagi Upaya Pencegahan

Meskipun hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan statistik antara golongan darah dan risiko diabetes, temuan ini tidak berarti bahwa seseorang dengan golongan darah tertentu pasti akan mengalami penyakit tersebut. 

Golongan darah merupakan faktor yang tidak dapat diubah, berbeda dengan pola makan, aktivitas fisik, atau berat badan yang masih bisa dikendalikan.

Karena itu, temuan ini lebih tepat dipahami sebagai informasi tambahan dalam pemetaan risiko kesehatan. Individu dengan kecenderungan biologis tertentu justru dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk melakukan pencegahan lebih dini melalui gaya hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan rutin.

Pendekatan pencegahan diabetes tetap berfokus pada pengendalian faktor utama seperti konsumsi gula berlebih, kurang bergerak, serta kelebihan berat badan. Dengan kata lain, faktor genetik atau biologis hanya menjadi salah satu bagian dari gambaran besar risiko penyakit metabolik.

Kebutuhan Penelitian Lanjutan

Para peneliti menekankan bahwa hubungan antara golongan darah dan diabetes masih memerlukan kajian lebih lanjut. Studi tambahan dengan populasi yang lebih beragam diperlukan untuk memastikan apakah temuan ini berlaku secara universal atau hanya pada kelompok tertentu.

Selain itu, mekanisme biologis yang menjelaskan kaitan tersebut juga belum sepenuhnya dipahami. Penelitian di masa depan diharapkan dapat mengungkap bagaimana perbedaan molekuler antar golongan darah dapat memengaruhi metabolisme glukosa, respons peradangan, atau sensitivitas insulin.

Terlepas dari itu, studi ini memperkaya pemahaman mengenai kompleksitas faktor risiko diabetes. Penyakit metabolik tidak muncul dari satu penyebab tunggal, melainkan hasil interaksi antara genetika, lingkungan, dan gaya hidup.

Kesadaran terhadap berbagai faktor risiko—termasuk yang tidak terlihat seperti golongan darah—dapat membantu masyarakat mengambil langkah pencegahan lebih komprehensif. Dengan deteksi dini, perubahan gaya hidup, serta pemantauan kesehatan berkala, risiko komplikasi diabetes di masa depan dapat ditekan secara signifikan.

Terkini