PLN EMI Jual REC ke 323 Ribu Pelanggan Industri, Bidik Pasar ASEAN

Jumat, 18 September 2026 | 01:47:31 WIB

PORTALVIRAL.ID — PT PLN Energy Management Indonesia (Persero) atau PLN EMI membukukan penjualan Renewable Energy Certificate (REC) kepada 323 ribu pelanggan industri dan 5 juta pelanggan bisnis sejak produk itu diluncurkan pada 2021. Perusahaan kini menyiapkan ekspansi lintas batas ke sejumlah negara Asia Tenggara. Langkah ini menjadi ujian bagi kesiapan Indonesia memasok sertifikat energi hijau di kawasan.

Direktur Utama PLN EMI Henri Firdaus menyatakan rencana crossborder ini mengikuti kesepakatan antarnegara yang dijalin pemerintah. Sejumlah pasar yang dibidik adalah negara tetangga yang bersinggungan langsung dengan Indonesia.

"Kami akan memberlakukan cross-border untuk REC, di sini nantinya negara-negara tetangga yang bersinggungan seperti Singapura, Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste," kata Henri dalam sesi diskusi panel 'Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness' Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Kamis (17/9).

Modal Awal: 20,72 TWh REC Terjual

Sejak REC pertama kali diluncurkan pada 2021, total sertifikat yang terjual mencapai 20,72 terawatt per jam (TWh). Dari volume itu, PLN EMI mencatat reduksi emisi sebesar 16,29 juta ton CO2 ekuivalen.

"Ini jumlahnya cukup luar biasa, dari 20,72 TWh itu, kami sudah mereduksi emisi sebesar 16,29 juta ton CO2 ekuivalen," ujarnya.

REC sendiri merupakan sertifikat digital resmi yang membuktikan listrik yang dipakai pelanggan berasal dari pembangkit energi terbarukan, mulai dari tenaga air, panas bumi, hingga surya.

Strategi Jual: Kebutuhan Pelanggan, Bukan Harga

Untuk menembus pasar luar negeri, PLN EMI tidak menempuh perang harga. Henri menyebut perusahaan lebih mengejar pemetaan kebutuhan pelanggan di masing-masing negara.

Pendekatan itu dinilai lebih relevan karena karakter permintaan energi hijau tiap negara berbeda. Pelanggan industri dan bisnis yang sudah ada menjadi basis yang bisa diperluas ke segmen serupa di negara tetangga.

Peluang Baru: REC Hourly-Matching untuk Pusat Data

Salah satu produk yang disiapkan adalah REC berbasis waktu atau hourly-matching. Produk ini mencatat sumber energi hijau pelanggan secara mingguan maupun harian, bukan hanya tahunan.

Henri menilai produk tersebut cocok dengan gelombang pembangunan pusat data yang masif di Indonesia. Operator pusat data dituntut menyesuaikan konsumsi listrik mereka dengan energi bersih.

"Ini sejalan nantinya dengan pembangunan pusat data yang sangat masif di Indonesia nantinya, mereka harus menyesuaikan dengan pemakaian energi bersih. Jadi ini merupakan solusi tepat bagi pusat data untuk menggunakan produk REC berbasis waktu," ucapnya.

PLN EMI menyebut REC sebagai model bisnis baru yang tumbuh dari agenda dekarbonisasi. Perusahaan membuka diri memanfaatkan momentum tersebut, terlebih pemerintah menyatakan potensi karbon Indonesia cukup melimpah.

Ekspansi ke Singapura, Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste akan menjadi uji pertama REC Indonesia bersaing di pasar regional. Bagi pelanggan industri dalam negeri, langkah ini membuka opsi pencatatan energi hijau yang lebih rinci dan bisa dipakai memenuhi standar ESG di pasar ekspor.

Terkini